AZROHAL HASAN

HISTORY NEVER DIES

Tetesan Merah

21 March 2016 - dalam Puisi Oleh azro_el-fib11

Hari ini tepat 52 tahun dikau bertahan.

Hamparan nilai telah kau sematkan.

Keringnya dada telah kau teteskan.

Bekas tapak kaki terluka telah kau jejakkan.

 

Hari ini tepat dimana umur mu telah matang.

Perjuangan harus terjewantahkan buaian religiusitas.

Keilmuan tak sejatinya masih diragukan.

Moral anggun mampu menetesi kehausan peradapan.

 

Hari ini tri kompetensi dasar menjerit di bawah batu nisan.

Mata tertutup rapat melihat diluar liang.

Telinga pun tak mampu mendengar tertutup tanah.

Nilai & cita-cita terbungkus rapi di kain kafan merah.

 

Hari ini tepat dimana kejumudan di berantas.

Sandaran nyaman tembok besar amal usaha yang di agungkan.

Berpangku pada tangan-tangan pendahulu yang di banggakan.

Berharap belas kasih yang tak kunjung datang.

 

Hari ini momentum 52 tahun merahmu.

Jiwa, pikiran, dan fisik yang matang jangan hanya disematkan.

Merangkai asah terpendam terlalu dalam.

Menterjemahkan religiusitas, intelektualitas, dan humanitas yang tertunda.

 

Kami Bangga dengan kemurnian merah mu.

Tapi hari ini kami belum puas melihat rapuhnya komponen mu.

Rentetan jalan terjal dan berliku masih panjang.

Bangunan roboh harus ditegakkan.

 

Untuk IMM dimananpun



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Sejarah yang Tak Terulang

    Masa Lalu gak akan muncul kembali namun kita setidaknya mampu belajar dari peristiwa masa lalu

IDEALISME SEMU

    Bicara tentang Idealisme, mungkin kata ini tak asing ditelinga Mahasiswa, apalagi Mahasiswa Aktivis yang menjunjung tinggi kata ini, berat rasanya buat siapapun Politikus, Negarawan, Agamawan,Sejarahwan dll, Bahkan Agamawan yang menjadi benteng keimanan, gejolak batin sontak timbul ketika kata itu tergadaikan materi-materi yang menggoda, Marx pun lebih jujur ketika menanggapi soal materi, Apa mungkin kejujuran Marx telah jadi realitas ditengah gempuran sistem yang semakin mencekik, Ah, Mungkin Kata itu hanya teks terbangkai yang selamanya akan menjadi Mitos para Pecandu Jabatan & Materi.

ASAP PEMBUNUH

    Berharap hujan datang dan memberi secercah harapan. Hujan dengarlah rintihan dan pekikan bayi, anak-anak, ibu, bapak, nenek dan kakek. Tak mampu berujar untuk menikmati nafas yang sebelumnya mereka hirup. Mata tak dapat melihat seperti yang sebelumnya mereka lihat. Hidup dalam miniatur neraka. Menyiksa, merusak tatanan kehidupan. Sudah lelah mereka merontah saling tuding tak ada jawaban datang dari bapak berkopiah, ber jas dan berdasi mewah. Seolah keadilan hanya sebuah fatamorgana bagi mereka. Di Hari Sumpah Pemuda ini para Motor Bangsa harus bertindak, tak hanya melihat, berujar dan saling menyudutkan. Semoga bangsa ini mampu bertahan dalam buaian pengkhianatan. Selamat Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2015 #SaveRiau #SaveBorneo #SaveSumatra #SaveSingapore #SaveMalaysia

Pengunjung

    19.366